Dalam salah satu episode acara Oprah Winfrey pernah ditampilkan satu documentary tentang seorang gelandangan yang biasa tidur di trotoar jalan dan sama sekali tidak punya harta berharga kecuali selembar selimut yang selalu menemani malam – malam dinginnya. Kepada orang itu diberikan uang yang cukup besar jumlahnya dan boleh dia pergunakan untuk apapun juga tanpa ada keharusan menggantinya seandainya uang itu habis. Alih alih digunakan untuk memperbaiki hidupnya, si pengemis tersebut kemudian membelanjakan uangnya untuk membeli satu buah truk bagi seorang temannya, dan membeli barang – barang lain yang tidak bernilai. Singkat cerita, hanya kurang dari satu tahun uangnya sudah habis dan dia kembali hidup menggelandang.
Dari documentary itu kita bisa belajar bahwa ternyata memiliki uang banyakpun tidak menjamin hidup kita akan otomatis bertambah baik kalau kita tidak bisa membuat perencanaan keuangan yang bagus. Kalau orang yang memiliki uang yang banyak saja memerlukan perencanaan keuangan tentu orang – orang dengan uang yang pas-pasan perlu juga memiliki perencanaan keuangan, itu logika sederhananya. Namun ada juga yang bilang, karena uang yang kita miliki sangat pas-pasan maka tidak perlu ada perencanaan keuangan, toh uang itu akan habis juga, masa bodohlah dengan perencanaan keuangan ! Karena uang anda adalah hak anda tentu anda boleh punya prinsip sendiri-sendiri dalam mengelolanya namun sesunguhnya seberapapun banyaknya uang anda, perencanaan keuangan tetaplah penting karena 2 faktor :
Pertama karena penghasilan kita tidaklah bebas dari factor resiko seperti PHK yang tiba-tiba ataupun sakit yang kita derita.
Dan kedua karena kita hidup tidak hanya sampai hari ini saja. Masih ada hari esok yang perlu kita pikirkan kelangsungannya. Prinsipnya hope for the best but prepare for the worst.
Banyak teman saya yang memiliki cita-cita menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, kalau perlu sampai ke luar negeri, tapi giliran ditanya apa persiapan yang sudah dilakukan untuk mendukung rencananya itu jawabannya kebanyakan “liat nanti sajalah, kalau Tuhan memang berkehendak pasti semuanya akan tercapai”. Tuhan memang punya hak prerogative untuk mewujudkan semua permohonan dan doa kita namun apakah anda rela membiarkan anak-anak anda menyongsong masa depannya hanya dengan sepotong doa dan kepasrahan kepada yang Maha Kuasa ? Disinilah diperlukan peran dari perencanaan keuangan yang baik.
Perencanaan keuangan yang paling sederhana sebenarnya hanyalah upaya untuk mengelola penghasilan anda dengan komposisi pengeluaran yang seimbang. Yang paling simple kira kira membaginya adalah 30% untuk belanja rumah tangga bulanan, 30% untuk membayar semua kewajiban anda, termasuk hutang kartu kredit dan hutang di warung makan sebelah kantor dan 30 % lagi untuk ditabung. 10% sisanya digunakan untuk urusan darurat seperti misalnya pergi ke dokter ataupun bersenang senang bersama buah hati anda. Dari 4 pos diatas saya yakin yang paling memberatkan anda adalah pos tabungan meskipun anda semua memiliki rekening tabungan. Buat saya sendiri menabung adalah sesuatu yang tidak pernah menjadi prioritas sampai hidup membawa saya ke keadaan dimana saya harus berpikir (meskipun dalam hati) “ seandainya saja saat itu saya punya tabungan”. Keberatan itu biasanya dilandasi alasan bahwa penghasilan kita selama ini hanya sekedar cukup untuk menutup pengeluaran bulanan kita dan tidak ada sisa buat ditabung. Benarkah demikian ? Mari kita ingat-ingat, berapa kali dalam satu bulan ini kita membeli baju baru, berapa kali anda pergi ke coffee shop untuk nongkrong bersama teman-teman anda, atau berapa kali anda terpaksa naik taksi padahal biasanya naik bis kota hanya karena anda bangun kesiangan ?
Salah satu kunci untuk bisa membuat perencanaan keuangan yang baik bagi masa depan anda dengan kondisi keuangan yang menurut anda pas-pasan saja adalah kemauan untuk menurunkan standard hidup kita saat ini demi masa depan yang lebih baik, cie…bahasanya promosi banget. Namun berdasarkan survey yang dilakukan oleh AXA life Asia tahun 2007 lalu terungkap bahwa hanya 26% orang Indonesia yang mau menurunkan standard hidupnya saat ini untuk masa depan yang lebih baik.
Hidup memang sebuah jebakan. Ingatkah anda ketika dulu hanya bisa makan berlauk daging ayam seminggu sekali ? Saat itu rasanya daging ayam adalah sesuatu yang maha enak. Namun pelan – pelan ketika kesejahteraan kita meningkat dan kita bisa makan berlauk ayam setiap hari maka nilai kenikmatan ayam menjadi jauh berkurang, sebaliknya makan tanpa ayam menjadi tidak terasa enak lagi. Begitulah meningkat seterusnya. Pernahkah anda terpikir bahwa lebih banyak kenikmatan yang bisa dinikmati orang miskin daripada orang kaya ?
Menurunkan sedikit dari gaya hidup kita untuk masa depan yang lebih baik bukanlah sesuatu yang amat menyiksa. Mulailah dari hal kecil seperti mengurangi frekwensi hang out bersama teman atau merencanakan menu makan siang anda secara lebih cermat dan berusaha untuk mendisiplinkan diri anda dengan rencana yang sudah disusun. Saya seringkali menjadi sangat boros hanya karena mengikuti ajakan teman-teman kantor untuk makan di mall padahal saya sudah berlangganan catering. Atau di hari lain karena tidak tahu mau makan apa terpaksa menelpon delivery order dari salah satu restoran cepat saji padahal saya tidak begitu menikmatinya. Percayalah, kalau hal – hal kecil itu bisa anda control maka anda akan mempunyai banyak uang yang bisa ditabung untuk membuat perencanaan keuangan yang lebih baik. Apabila terlalu banyak pos yang harus dibenahi untuk membuat perencanaan keuangan maka saran saya mulailah dengan memotong kartu kredit anda dan menutupnya. Kemudian berusaha melunasi semua hutang yang ada secepatnya kecuali hutang yang bersifat produktif. Hidup tanpa hutang akan terasa lebih enteng. Trust me.
Dari documentary itu kita bisa belajar bahwa ternyata memiliki uang banyakpun tidak menjamin hidup kita akan otomatis bertambah baik kalau kita tidak bisa membuat perencanaan keuangan yang bagus. Kalau orang yang memiliki uang yang banyak saja memerlukan perencanaan keuangan tentu orang – orang dengan uang yang pas-pasan perlu juga memiliki perencanaan keuangan, itu logika sederhananya. Namun ada juga yang bilang, karena uang yang kita miliki sangat pas-pasan maka tidak perlu ada perencanaan keuangan, toh uang itu akan habis juga, masa bodohlah dengan perencanaan keuangan ! Karena uang anda adalah hak anda tentu anda boleh punya prinsip sendiri-sendiri dalam mengelolanya namun sesunguhnya seberapapun banyaknya uang anda, perencanaan keuangan tetaplah penting karena 2 faktor :
Pertama karena penghasilan kita tidaklah bebas dari factor resiko seperti PHK yang tiba-tiba ataupun sakit yang kita derita.
Dan kedua karena kita hidup tidak hanya sampai hari ini saja. Masih ada hari esok yang perlu kita pikirkan kelangsungannya. Prinsipnya hope for the best but prepare for the worst.
Banyak teman saya yang memiliki cita-cita menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, kalau perlu sampai ke luar negeri, tapi giliran ditanya apa persiapan yang sudah dilakukan untuk mendukung rencananya itu jawabannya kebanyakan “liat nanti sajalah, kalau Tuhan memang berkehendak pasti semuanya akan tercapai”. Tuhan memang punya hak prerogative untuk mewujudkan semua permohonan dan doa kita namun apakah anda rela membiarkan anak-anak anda menyongsong masa depannya hanya dengan sepotong doa dan kepasrahan kepada yang Maha Kuasa ? Disinilah diperlukan peran dari perencanaan keuangan yang baik.
Perencanaan keuangan yang paling sederhana sebenarnya hanyalah upaya untuk mengelola penghasilan anda dengan komposisi pengeluaran yang seimbang. Yang paling simple kira kira membaginya adalah 30% untuk belanja rumah tangga bulanan, 30% untuk membayar semua kewajiban anda, termasuk hutang kartu kredit dan hutang di warung makan sebelah kantor dan 30 % lagi untuk ditabung. 10% sisanya digunakan untuk urusan darurat seperti misalnya pergi ke dokter ataupun bersenang senang bersama buah hati anda. Dari 4 pos diatas saya yakin yang paling memberatkan anda adalah pos tabungan meskipun anda semua memiliki rekening tabungan. Buat saya sendiri menabung adalah sesuatu yang tidak pernah menjadi prioritas sampai hidup membawa saya ke keadaan dimana saya harus berpikir (meskipun dalam hati) “ seandainya saja saat itu saya punya tabungan”. Keberatan itu biasanya dilandasi alasan bahwa penghasilan kita selama ini hanya sekedar cukup untuk menutup pengeluaran bulanan kita dan tidak ada sisa buat ditabung. Benarkah demikian ? Mari kita ingat-ingat, berapa kali dalam satu bulan ini kita membeli baju baru, berapa kali anda pergi ke coffee shop untuk nongkrong bersama teman-teman anda, atau berapa kali anda terpaksa naik taksi padahal biasanya naik bis kota hanya karena anda bangun kesiangan ?
Salah satu kunci untuk bisa membuat perencanaan keuangan yang baik bagi masa depan anda dengan kondisi keuangan yang menurut anda pas-pasan saja adalah kemauan untuk menurunkan standard hidup kita saat ini demi masa depan yang lebih baik, cie…bahasanya promosi banget. Namun berdasarkan survey yang dilakukan oleh AXA life Asia tahun 2007 lalu terungkap bahwa hanya 26% orang Indonesia yang mau menurunkan standard hidupnya saat ini untuk masa depan yang lebih baik.
Hidup memang sebuah jebakan. Ingatkah anda ketika dulu hanya bisa makan berlauk daging ayam seminggu sekali ? Saat itu rasanya daging ayam adalah sesuatu yang maha enak. Namun pelan – pelan ketika kesejahteraan kita meningkat dan kita bisa makan berlauk ayam setiap hari maka nilai kenikmatan ayam menjadi jauh berkurang, sebaliknya makan tanpa ayam menjadi tidak terasa enak lagi. Begitulah meningkat seterusnya. Pernahkah anda terpikir bahwa lebih banyak kenikmatan yang bisa dinikmati orang miskin daripada orang kaya ?
Menurunkan sedikit dari gaya hidup kita untuk masa depan yang lebih baik bukanlah sesuatu yang amat menyiksa. Mulailah dari hal kecil seperti mengurangi frekwensi hang out bersama teman atau merencanakan menu makan siang anda secara lebih cermat dan berusaha untuk mendisiplinkan diri anda dengan rencana yang sudah disusun. Saya seringkali menjadi sangat boros hanya karena mengikuti ajakan teman-teman kantor untuk makan di mall padahal saya sudah berlangganan catering. Atau di hari lain karena tidak tahu mau makan apa terpaksa menelpon delivery order dari salah satu restoran cepat saji padahal saya tidak begitu menikmatinya. Percayalah, kalau hal – hal kecil itu bisa anda control maka anda akan mempunyai banyak uang yang bisa ditabung untuk membuat perencanaan keuangan yang lebih baik. Apabila terlalu banyak pos yang harus dibenahi untuk membuat perencanaan keuangan maka saran saya mulailah dengan memotong kartu kredit anda dan menutupnya. Kemudian berusaha melunasi semua hutang yang ada secepatnya kecuali hutang yang bersifat produktif. Hidup tanpa hutang akan terasa lebih enteng. Trust me.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar