Selasa, 08 Juli 2008

Berbagi

Suatu hari seseorang datang menemui pendetanya. Orang itu sudah lelah hidup serba berkekurangan dan ingin berkeluh kesah kepada pendetanya. Oleh sang pendeta dia diajak untuk berdoa bersama memohon kemurahan Tuhan. Dalam doanya dia berjanji kepada Tuhan akan memberikan 10% dari penghasilannya untuk Tuhan. Ajaib, sepulangnya dari berdoa hidupnya menjadi sangat mudah. Rejeki mengalir tiada henti, saluran rejeki untuknya seakan terbuka lebar. Ketika dia mendapat rejeki Rp.100 ribu yang pertama dia buru-buru menyisihkan Rp.10 rb untuk Tuhan. Demikan pula ketika dia mendapat Rp.1 juta yang pertama dia segera menyisihkan Rp.100 rb untuk Tuhan. Ketika dia mendapat Rp.10 juta, hatinya mulai ragu. 10% dari Rp.10 juta bukan jumlah yang sedikit, namun demikian dia tetap menyisihkan Rp.1 jt untuk Tuhannya. Akhirnya dia mendapat rejeki senilai Rp.100 juta dan dia memutuskan untuk menghadap sang pendeta yang dulu berdoa bersamanya.
“Bapa pendeta, bapa tahu dulu aku berjanji untuk memberikan 10% dari rejeki yang aku terima untuk Tuhan, dan selama ini aku sudah memberikannya. Tapi sekarang 10% dari rejekiku nilainya sungguh besar. Bisakah aku merubah doaku dan merubah janjiku pada Tuhan untuk memberikan 10% dari rejekiku menjadi 5% saja ?” tanyanya.
“Anakku, janji yang sudah kau berikan pada Tuhan tidak bisa kau cabut begitu saja, tapi kalau kamu mau, kita bisa sama-sama berdoa kepada Tuhan agar rejekimu bisa diturunkan olehNya sehingga 10% itu tidak kelihatan terlalu besar lagi bagimu,”jawab sang pendeta bijaksana.

Ketika di sekitar kita banyak orang susah yang sedang membutuhkan bantuan kita entah karena bencana alam ataupun sebab lain, sering kita mendengar orang yang bilang, “Coba aku punya duit yang cukup, aku pasti bantu orang itu,” ataupun ungkapan ungkapan lain yang intinya sebenarnya adalah janji untuk membantu orang lain yang sedang berkesusahan seandainya uangnya sudah cukup. Saya termasuk orang yang tidak percaya dengan janji semacam itu. Keserakahan diri biasanya tumbuh berbanding lurus dengan kekayaan kita. Ketika kita tidak memiliki uang sama sekali maka uang Rp.100 ribu terlihat sangat berharga. Saat itu kita berpikir bahwa dengan uang sebanyak itu banyak hal yang akan bisa kita lakukan. termasuk membantu sesama yang sedang berkesusahan. Apa yang terjadi ketika kita memiliki uang itu ? Ternyata uang itu menjadi kecil nilainya dan kita melihat Rp.1 juta sebagai batas cukup yang baru, demikian seterusnya. Dan kita bisa mencari alasan baru untuk tidak menolong sesama kita yang membutuhkan. Coba diingat-ingat berapa kali kita urung memberikan uang receh kita kepada pengemis atau anak-anak jalanan karena pada detik terakhir kita berpikir bahwa mereka hidup susah karena kemalasan mereka. Atau suatu ketika kita menolak untuk memberikan uang seribu rupiah kepada seseorang yang tiba-tiba datang menemui kita dan mengaku dirinya baru kecopetan dan sangat membutuhkan bantuan kita. Kita langsung berpikir bahwa hal itu tidak lebih dari akal-akalan penipu. Luar biasa khan, hanya karena uang gopek atau seceng kita merasa berhak untuk menghakimi orang lain sebagai pemalas ataupun penipu.

Apa yang anda lakukan ketika melalui TV kita melihat korban banjir yang mengungsi ke tenda tenda darurat dan serba kekurangan ? Saya yakin anda merasa kasihan dan ikut prihatin. Tapi kebanyakan dari kita berhenti sampai disitu saja, termasuk saya. Habis mau bagaimana, udah lokasi bencananya jauh, kita juga sering merasa kalaupun bisa memberi bantuan pasti jumlahnya tidak seberapa, ditambah lagi kita berpikir bahwa membantu para korban itu adalah tugas pemerintah. Sampai disini akhirnya kita memilih untuk tidak peduli.

Dalam lagu – lagu cinta kita sering mendengar bahwa antitesa dari cinta adalah benci. Dengan pernyataan itu berarti orang yang kita cintai tidak mungkin kita benci, demikian juga sebaliknya. Benarkah demikian ? Bagaimana dengan pernyataan benci tapi rindu ? Dengan antitesa itu berarti kita harus menempatkan semua orang yang tidak mencintai kita berarti membenci kita. Lalu bagaimana dengan orang – orang yang berada posisi netral ? Tidak cinta namun juga tidak benci. Ada satu kata yang lebih tepat untuk menjadi lawan kata “cinta” yaitu “abai” atau tidak peduli. Kalau anda mencintai seseorang anda tidak akan pernah mengabaikannya.

Kemampuan untuk berbagi semestinya sudah mulai dipupuk ketika kita juga dalam keadaan yang tidak berlebih. Berbagi dari kelebihan tentu bukan hal yang sukar namun berbagi dalam keterbatasan, itulah tantangan hidup. Wajah Tuhan hadir dalam setiap sesama kita yang menderita. Setiap kita memberi pada sesama kita sebenarnya kitalah yang menerimanya.

Selamat berbagi.

Tidak ada komentar: