Rabu, 09 Juli 2008

Ibu yang selalu kesiangan

Setiap hari saya selalu berangkat ke kantor naik bis umum. Sebenarnya saya bukan termasuk pecinta bis umum namun dengan pertimbangan biaya tentu aja naik bis umum jauh lebih ekonomis. Kebetulan bis umum dari kompleks tempat saya tinggal di selatan Jakarta juga cukup manusiawi dari segi kenyamanan. Biasanya saya berangkat ke kantor dengan bis paling pagi dan sudah akan berada di halte minimal 15 menit sebelumnya agar bisa mendapatkan tempat duduk ideal, paling tidak harus window seat lah. Apalagi bis itu selalu penuh di pagi hari. Meskipun tidak sampai berjejal seperti penumpang KRL namun pasti ada yang kebagian berdiri.

Bermacam tipe orang bisa kita jumpai diatasnya, mulai dari yang berparas cantik bak bintang sinetron namun logat bicaranya medok, ibu – ibu yang suka mengkritik segala jenis iklan yang ada di TV, bapak – bapak yang begitu duduk langsung tidur, hingga teman sebangku yang suka mengajak cerita tak habis – habisnya, padahal biasanya lama perjalanan yang bisa memakan waktu rata – rata satu jam itu saya pakai untuk melanjutkan mimpi yang terganggu tadi malam.

Dari sekian banyak tingkah penumpang itu ada satu yang paling membuat saya kesal yaitu seorang ibu paruh baya yang selalu datang tepat ketika bus akan berangkat dari halte. Sudah jamak berlaku di atas bus umum bahwa kita yang laki – laki harus selalu mendahulukan para perempuan untuk duduk manis dan kita mengalah untuk berdiri perkasa. Adab itu menyebabkan para lelaki perkasa di bus kami harus selalu mengalah sama ibu tadi meskipun saya tahu beberapa dari kami selalu berusaha datang pagi-pagi buta agar mendapatkan tempat duduk idaman kami.

Pertanyaan saya : layakkah ibu tadi selalu mendapatkan tempat duduk dan kami harus selalu mengalah padahal setiap pagi kami sudah berusaha keras agar datang lebih pagi sedangkan ibu tadi dengan privilege kewanitaannya selalu datang paling akhir ?

Tidak ada komentar: