Selasa, 08 Juli 2008

Kaya

Hari masih belum terlalu sore. Perahu nelayan pencari ikan belum kembali dari tengah laut. Seorang juragan perahu ikan sedang menunggu perahu-perahu ikan miliknya berlabuh ketika dia melihat seorang nelayan tua dengan perahunya yang kecil sudah mendarat dipantai itu. Hasil tangkapannya hari itu hanya sekeranjang kecil ikan. Usai membersihkan perahunya nelayan tua itu bergegas menuju ke sebuah kedai kopi yang ada di pantai itu. Secangkir kopi kecil segera dinikmatinya sambil duduk mencangkung. Sebatang rokok dinyalakannya dan dihisapnya dengan penuh kenikmatan. Si juragan perahu dating menghampiri dan menyapanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Pak Tua, hari masih panjang, kenapa engkau sudah kembali dari melaut ?” Tanya si Juragan perahu.
“Emangnya kenapa ?” jawab si nelayan tua acuh tak acuh.
“Kalau engkau masih di laut tentu akan makin banyak ikan yang bisa kau hasilkan.”
“Terus buat apa aku menangkap ikan banyak-banyak ?”
“Supaya penghasilanmu bisa meningkat.”
“Terus buat apa kalau penghasilanku sudah meningkat?”
“Engkau bisa membeli perahu yang lebih besar.”
“Buat apa perahu yang besar ?”
“Engkau bisa menangkap ikan lebih banyak lagi.”
“Buat apa aku menangkap ikan yang lebih banyak ?”
“Engkau bisa menabung untuk hari tuamu dan menjadi kaya sehingga apabila saat itu tiba engkau bisa bersantai sambil menikmati kopi kegemaranmu dan menikmati rokok kesukaanmu,”jawab si juragan perahu dengan agak jengkel.
Si nelayan tua dengan santai menjawab,” Kau pikir sekarang ini saya lagi ngapain ?”

Menjadi kaya adalah sebuah sihir bagi hampir semua orang hingga orang rela berjungkir balik dan bersaing setiap hari untuk bisa menumpuk kekayaan, entah dengan cara yang halal, setengah halal maupun full haram. Dan semangat untuk mencari kekayaan memang secara disadari atau tidak sudah ditanamkan sejak kanak – kanak. Anda yang sudah memiliki anak tentu tidak rela apabila anak anda yang masih duduk di bangku TK dan sedang tergila – gila makan dan bermain di sebuah restaurant cepat saji bercita – cita bekerja di restaurant itu untuk sebuah alasan sederhana agar bisa makan dan bermain sepanjang hari di restaurant itu. Ayah saya yang berprofesi sebagai guru SD sangat gusar ketika dulu saya pernah bercita cita menjadi seorang pendidik. Alasannya tentu saja karena beliau tahu profesi guru tidak menjanjikan kekayaan. Dan tentu tidak ada yang salah dengan semua itu.

“Kaya” adalah sesuatu yang relative, namun apapun definisi tentang kaya, ia pastilah mengacu pada makna “berkecukupan”.
Anda pasti setuju kalau saya bilang bahwa kaya tidak menjamin orang untuk hidup bahagia, tapi ada satu hal yang perlu diingat bahwa dengan menjadi kaya kita memiliki lebih banyak pilihan untuk menjadi bahagia.


Dalam kitab Injil ada perumpamaan tentang seorang fakir miskin bernama Lazarus dan seorang saudagar yang kaya raya. Saya tentu tidak pada kapasitas untk mengupas bunyi ayat ayat dalam perumpamaan itu tetapi satu hal yang menarik dalam perumpamaan itu adalah kenyataan bahwa si fakir miskin disebutkan namanya dengan jelas sebagai Lazarus sedangkan si saudagar kaya ini sama sekali tidak pernah disebutkan namanya kecuali identitasnya sebagai seseorang yang sangat kaya. Sound familiar ? Tanpa disadari banyak diantara kita yang dikenal orang di sekitar kita hanya dari atribut kekayaan kita. Mereka hanya mengenal kita by numbers, sebagai seseorang yang rumahnya 4 buah dan buesar, koleksi mobil mewahnya 10 buah, punya 20 perusahaan dan angka – angka lain yang angkanya kita harapkan makin fantastis dari hari ke hari. Bagaimana dengan anda yang level kekayaannya baru sebatas bisa pulang mudik setiap lebaran dengan mengenakan perhiasan yg ngejreng berkilau kilau atau mobil yang kinclong meskipun dari hasil kreditan dan dibayar dengan penuh penghematan. Kira kira semangatnya hampir sama, yang penting tetangga2 di kampung mengenal kita dari kekayaan kita.

Menjadi kaya bukanlah sebuah dosa, bahkan setahu saya tidak ada satu agamapun yang melarang orang untuk menjadi kaya meskipun juga tidak ada agama yang memberikan tips agar cepat kaya. Yang menjadi concern agama2 di dunia adalah bagaimana kita menjadi kaya dan tetap bermartabat karena kadang perlombaan untuk menjadi kaya membuat kita lupa dengan sisi kemanusiaan kita. Mungkin perlu disimak nasehat Warren Buffet yang mengatakan “Money doesn't create man but it is the man who created money.” Terjemahan bebasnya kira2 jangan biarkan uang bertahta atas kita tapi kitalah yang musti berkuasa atas uang kita.

Kalo anda mulai merasa tertekan dengan urusan kekayaan ini ada baiknya kalo sesekali anda pulang kampung ( asal jangan pas musim lebaran ya ) dan melihat bagaimana kesederhanaan masih bisa kita rasakan dalam segala aspek kehidupan masyarakatnya. Sungguh, melihat kehidupan mereka anda akan langsung bersyukur dengan segala yang sudah anda miliki selama ini. Sewaktu tinggal di Bali saya sering merasa iri dengan orang2 yang bisa punya waktu untuk memancing ikan di sungai ataupun di pantai ketika saya baru mau pulang kerja. Dan kalo anda merasa miskin karena merasa tidak memiliki apa2 maka ingatlah apa definisi kaya dari segi perencanaan keuangan, menurut definisi ini kaya adalah apabila asset kita lebih besar nilainya dari hutang kita. Jadi kalo anda hanya memiliki motor satu sementara tetangga anda mobilnya 5 anda nggak usah merasa minder dulu karena siapa tahu hutang mereka senilai 10 mobil sementara hutang anda hanya 1 kg telur di pasar yang belum dibayar istri anda ketika belanja tadi pagi karena sang pedagang tidak punya uang kembalian.

Tidak ada komentar: